Pages

Tuesday, January 1, 2013

Seberapa Erat Anda Berkawan di Ruang Maya? ^__^


Membaca cerita fiksi Liya yang ini, membuat saya teringat sebuah gambar kartun yang saya dapat dari internet. Kartun yang membuat saya tersenyum, yang meskipun tidak harfiah, tapi amat dalam maknanya: "on the internet, nobody knows you're a dog".

Menurut saya, pertemanan di ruang maya mudah di diawali pun jangan sungkan tuk diakhiri bila hanya mendatangkan kesusahan, sebagaimana tulisan seorang teman: bertemanlah ...............sampai DELETE memisahkan kita


Monday, November 14, 2011

Hati-hati buuuuuuu.............

Hari sabtu kemarin untuk suatu keperluan saya pergi ke rumah nenek di Talaga (Majalengka) dengan mengendarai motor. Untuk menghindari arus sumedang yang padat, saya memilih jalur memutar ke limbangan, malangbong, wado, bantarujeg, talaga. Bagi yang mau tahu silahkan buka gugel map.

Berangkat dari rancaekek pukul 11 siang, karena pagi ada jadwal pemantapan menghadapi UN untuk siswa kelas 6. Perjalanan awal terbilang lancar karena jalan lumayan kosong. Sampai di jalan yang berliku-liku, di daerah limbangan saya memacu motor saya dengan kecepatan 60 km/jam. Lumayan ngebut untuk ukuran saya sendiri apalagi mengingat jalan yang berkelok-kelok.

Di sebuah tikungan, tiba-tiba saja saya berhadapan dengan sebuah truk berukuran jumbo yang sedang menyalip sebuah minibus dengan kecepatan tinggi. Tak mungkin saya hanya sekedar mengerem, karena truk tersebut melaju tepat kearah saya. Mau tidak mau saya banting stir (eh, setang) turun ke bahu jalan di sebelah kiri. Sempat hilang kendali juga, karena bahu jalan berupa tanah berpasir dan berkerikil, sehingga ketika saya mengerem, ban motor malah menggelusur. Hups............ untung Allah masih melindungi saya.............



Beberapa siswi smp yang berada di pinggir jalan tersebut bergegas menghampiri saya. Pada saat itu saya sudah berhasil mengendalikan motor dan kembali ke badan jalan. Saat saya berlalu dari situ, salah seorang siswi SMP tersebut berteriak " hati-hati buuuuuuuuuuuuu....."
Saya yang saat itu sedang pengen ngamuk-ngamuk memaki si supir truk ga kesampaian karena truknya sudah jauh berlalu, tiba-tiba saja merasa nyesssss............, serasa hati saya disiram oleh air dingin. Ah, perhatian sederhana dari seorang tak dikenal ternyata terasa begitu menyejukan.
Terima kasih ya naaak


gambar nyomot disini


Thursday, May 19, 2011

A Lost Moment




Melihat sebuah mobil bak terbuka dengan tumpukan kardus dibelakangnya dijalan yang berlubang-lubang parah membuat mobil tersebut terlihat miring miring mengkhwatirkan. Hasrat hati ingin mengabadikan adegan tersebut (siapa tahu bisa dapet pulitzer award) apa daya sedang mengendarai motor. Mencoba berhenti untuk mengambil foto eh si mobil berlalu meninggalkan tukang foto kesiangan.

Akhirnya tancap gas untuk mengejar si mobil, beruntung mobil tertahan lintasan kereta, akhirnya berhasil mengabadikan gambar si mobil. Sayang seribu sayang, jalanan dekat lintasan kereta licin mulus sehingga adegan dramatis kemiringan mobil tidak nampak. Melayang deh pulitzer awardnya................
Btw, pernah ada pulitzer yang dianugerahkan untuk foto yang diambil pakai kamera hp ga sih? ^___^

Lokasi: Lintasan pintu kereta Rancaekek

Tuesday, May 17, 2011

Calon Politikus Masa Depan


Sekolah tempat saya mengajar merupakan fullday school, artinya siswa seharian berada di sekolah. Konsekwensinya sekolah harus menyediakan makan siang untuk siswa dan guru.

Masalahnya, terkadang menu yang disediakan sekolah tidak menarik minat siswa (ssst guru juga sering ga minat sih). Dan menu hari ini termasuk yang tidak mendapat apresiasi dari perut lapar siswa.

Beberapa siswa kelas 5 menghampiri saya.
Siswa : Bu ijin ya mau ke warung luar sekolah
Bu Metty : Mau beli apa?
Siswa : mau beli *****mie
Bu Metty : Kan kamu tahu peraturannya?
Siswa : hehehe......
Mereka tahu bahwa sekolah tidak mengizinkan siswa membeli mie instan di jam sekolah.

Tidak berapa lama beberapa siswa lain menghampiri saya.
Siswa : Bu minta ijin pake telpon sekolah untuk telpon mama ya
Bu Metty : Ya silahkan
Mereka memang tidak diijinkan membawa hp ke sekolah, karenanya sekolah mengizinkan telpon sekolah digunakan siswa.

Eh, ga berapa lama tahu-tahu siswa-siswa tersebut berebutan menyeduh mie instan. Heranlah saya.
Bu Metty : Hayooo, pada beli mie instan ya, nah yaaa, siap-siap konsekwensinya yaa
Siswa : ngga bu, dibawain ibunya si A, tadi kan dia nelpon ibunya untuk bawain ****mie buat kita semua. Kita kan tidak melanggar aturan, jadi ga ada konsekwensiiiii

GUBRAKS!

Oke deh nak, bu guru yakin, kalau jadi politikus,kalian akan jadi politikus yang suksesssss......

Wednesday, March 16, 2011

[PR] Stylish Blogger Award




Terima kasih untuk bung Deba alias pria (menurut pengakuan sepihak darinya) paling ganteng se MP, alias si playboy yang (juga katanya) sudah insyaf. Terima kasih untuk timpukannya, timpukkan yang datang disaat saya punya semangat menggebu untuk menulis, disaat yang sama juga saya merasa kemampuan saya untuk menulis sudah karatan. ………. Awas ya jangan nanya “emang pernah punya?”
Ehm……. baik untuk tidak berpanjang-panjang ini dia 8 hal tentang saya………

1. Pemarah
Pengennya sih jadi orang penyabar, tapi kok ya susaaaaaah banget. Dan susahnya, saya bukan orang yang bisa memendam kemarahan, kalau ga suka ya saya jeplakin aja JEDDEEERR, ga pandang bulu siapa yang membuat saya marah. Sifat jelek ini akan meningkat intensitasnya pada masa-masa PMS. Meski demikian, saya juga bukan pendendam, kalau sudah lewat marahnya, ya sudah, ga ngunek-unek lagi.

2. Ceroboh dan Pelupa
Hu uh, saya orang yang sering banget kehilangan benda-benda kecil seperti peniti, ikat rambut , gunting kuku, pulpen, spidol, hekter dan teman-temannya. Disekolah saja sering banget ada siswa datang kekelas menyerahkan kunci motor sambil bilang “bu, ini ketinggalan, tadi masih menggantung di motor”

3. (Katanya sih) Boyish
Padahal sih saya merasa wajar-wajar saja, meskipun ga suka pakai high heels dan ga suka dandan, tapi juga tidak maskulin. Cuma mungkin karena saya lebih suka bawa tas punggung (istilah saya sih tas gemblok) orang-orang jadi bilang kalau saya boyish.

4. Ga mau repot.
Saya paling malas kalau bepergian harus bawa banyak barang bawaan. Biasanya saya Cuma bawa tas punggung berisi pakaian dan satu tas kecil buat dompet dan hp. Sebagai akibatnya, kalau pulang lebaran, kakak-kakak dioleh-olehi berbagai makanan khas kampong, untuk saya ibu saya tidak pernah menyiapkan bawaan apa-apa karena tahu saya pasti ga mau bawa. Sejak punya laptop, tas punggung saya pakai untuk membawa laptop, jadi biasanya saya pulkam atau berkunjung ke rumah kakak tanpa membawa baju ganti kecuali baju dalem. Biasanya terus saya pinjem baju kakak deh………… hehehe.

5. Ga suka hal-hal yang berbau administrasi
Hahaha…….. paling males mengerjakan tugas-tugas yang sifatnya administratif. Harusnya orang seperti saya tidak menjadi guru karena ternyata oh ternyata, tugas keadministrasian guru itu ada 26 item oh noooooooooooo……………. Di sekolah yang lama ga terlalu masalah, karena guru cuma dituntut untuk membuat progam semester, progam pekanan, dan lesson plan, tambah absensi dan catatan anecdotal. Disekolah saya sekarang, guru harus punya administrasi lengkap ke 26 item tersebut, termasuk menuliskan materi yang diberikan (lengkap, bukan hanya pokok bahasannya saja) ketika memberikan pengayaan atau remedial kepada siswa-siswa tertentu diluar jam mengajar. HUUUWWWWAAAAAAAAAAAAAAAAA…………

6. Suka makan enak
Makanan favorit saya adalah bakso, rujak, duren dan ikan asin. Menurut saya meranalah orang-orang yang tidak suka makanan tersebut hehehe

7. Tidak fotogenik
Kalau difoto, pasti hasilnya jelek............ eh apa sesuai aslinya yaaaa..hahaha

8. Nomor ini saya kosongkan untuk penilaian teman-teman tentang saya

Setelah saya baca ulang dari no 1 sampai no 7 kok ga ada bagus-bagusnya yaa

Saya tidak menimpuk dah yaaaaa
Eh, ralat, PR ini saya delegasikan ulang untuk
1. Lina



Monday, March 14, 2011

[CERBUNG] Menghalau Bayang

Danar meneruskan kesibukannya menyalakan arang dipanggangan sate setelah sesaat perhatiaannya teralihkan oleh kedatangan sebuah avanza berwarna abu metalik didepan warungnya. Tangannya cekatan meratakan tumpukan arang, kemudian menuang sedikit spirtus dan menyalakan korek api.
Warung makannya terletak di pinggir jalan utama antara Bandung dan Lembang. Jalan yang nyaris tak pernah absen dari kemacetan. Walau begitu warungnya lumayan laris. Meskipun jarang sekali benar-benar penuh, tapi juga nyaris selalu ada pembeli yang makan meskipun bukan di jam makan. Dan saat baru saja warungnya buka jam sembilan tadi, dua orang mampir dan memesan dua porsi sate kelinci.
Baru saja dia menuang arang ke panggangan, datang sebuah avanza berwarna abu metalik. Pengendaranya seorang wanita berusia kira-kira menjelang 30 tahunan. Sesaat hatinya berdesir curiga, dia terpaku dengan apa yang melintas dipikirannya hingga tangannya terdiam kaku dan arang yang dituangnya hampir luber. Danar baru tersadar saat Iwan, orang yang membantunya menjalankan usaha warung makan ini menyikutnya, “kang….” Katanya menyadarkan Danar.
Danar berusaha tidak memperlihatkan ekspresi apapun di wajahnya. Tapi hatinya benar-benar resah. Resah dengan kedatangan wanita tersebut. Resah dengan kecurigaan hatinya. Resah dengan urusan yang selama tiga bulan ini, tanpa dimauinya, telah melibatkan dirinya.
Wanita tersebut memilih duduk di meja pojok. Tampaknya dia tidak mengenal dua orang yang datang lebih dulu. Dengan sudut matanya, Danar melihat Iwan menghampiri wanita tersebut sambil membawa buku pesanan.
“Seporsi sate kelinici” Iwan menyebutkan pesanan wanita tersebut setelah masuk dapur.
Tanpa berkata-kata, Danar menambahkan sepuluh tusuk sate ke pemanggangan. Iwan menyibukkan diri mempersiapkan nasi, dan irisan tomat serta mentimun. Setelah sayuran siap, Iwan mempersiapkan bumbu sambal untuk sate.
Sate pesanan kedua orang yang datang lebih dulu telah siap. Dengan cekatan Iwan mengantarkannya ke meja mereka. Saat sate pesanan wanita tersebut siap, Danar sengaja mengantarkannya sendiri.
Wanita tersebut tidak memperlihatkan reaksi apapun, bahkan bilang terima kasih saja tidak. Saat kembali ke dapur, Danar merasa bahwa kecurigaannya berlebihan.
“Aneh ya Kang, ga biasanya ada wanita makan sendirian di warung kita” kata Iwan.
“Menurutmu, kenapa kira-kira dia datang sendirian?” Danar memancing pendapat Iwan.
“Mmmh, apa dia naksir akang ya?”
“Hush!” Mereka berdua tertawa.
Wanita tersebut telah menghabiskan makannya. Dua orang yang datang lebih dulu memanggil Danar untuk membayar makanannya. Danar sengaja menyuruh Iwan pergi membeli arang dari tadi. Dia menghampiri meja bekas makan kedua orang tadi, sebagaimana telah diduganya, tidak ada yang mencurigakan dari kedua orang tersebut. Danar melirik piring bekas makan wanita tersebut, hatinya langsung mencelos. Terbuktilah kecurigaannya. Tusuk sate dipiring tersebut disusun silang menyilang, membentuk sebuah pola yang sudah dikenalnya. Dan dia sangat faham maksudnya.
Danar membawa piring bekas kedua orang tersebut ke dapur, kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari tas punggung yang digantung di dinding. Dia masuk ke kamar mandi dan menggantungkan bungkusan tersebut di gantungan belakang pintu. Saat dia keluar, terdengar suara perempuan tersebut.
“Kang! Boleh ikut ke kamar mandi?”
“Silahkan.”
Wanita tersebut masuk ke kamar mandi. Saat keluar , tidak terlihat dia membawa apapun. Dia kembali ke mejanya dan memanggil Danar.
“Sudah kang, jadi berapa?”
Danar meletakkan bon di meja. Wanita tersebut meliriknya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. Jumlah yang amat banyak. Lebih dari dua puluh kali lipat angka yang tertera di bon.
“Mari” katanya sambil beranjak pergi.
Danar tidak menjawab. Dia mengambil uang dari meja. Hatinya mengeluh. Sungguh dia tidak gembira menerima uang tersebut. Dia tidak tahu dan bahkan tidak ingin tahu dalam urusan apa dia terlibat. Dia hanya ingin lepas dari urusan ini. Dia bahkan tidak mengerti mengapa dirinya dilibatkan tanpa dikehendakinya. Tadinya dia kira bungkusan-bungkusan yang harus dia serahkan pada tanggal-tanggal tertentu kepada orang-orang tertentu yang memesan sate dan menyusun tusuk sate bekasnya dengan pola tertentu adalah narkotika. Tapi hari ini dia tahu bukan itu. Bukan. Semalam setelah dia menerima bungkusan tersebut, segera dia menutup warungnya. Di rumah dengan hati-hati dibukanya bungkusan tersebut. Dan dia makin tidak mengerti. Ternyata isinya hanya selembar saputangan batik.

*******************

Inspirasi datang saat memain-mainkan tusuk sate selepas menyantap seporsi sate kelinci di daerah Lembang
Mudah-mudahan semangat terus sampai kelar, tidak seperti nasib cerbung-cerbung sebelumnya

Thursday, March 3, 2011

Fungsi Jalan Kita ^___^

Fungsi jalan? Ya buat jalanlaaah........................ Tapi di Indonesia ternyata bukan tempat berjalannya pejalan kaki dan kendaraan lho. Orang Indonesia memang sungguh kreatif.

Nih ya, jalan di kita bisa dimanfaatkan sebagai
  1. Tempat menggelar pesta.
    Bagi yang punya halaman rumah sempit (ngelirik halaman rumah sendiri) dan dana terbatas, mendirikan tenda di jalan adalah alternatif bagi banyak orang di Indonesia saat akan mengadakan pesta tapi tidak mampu menyewa gedung
  2. Perpanjangan pasar. Yup, lihat saja dipasar-pasar tradisional dipagi hari, para pedagang menggelar dagangannya sampai ke badan jalan. Pasar Kramat jati jakarta timur salah satunya.
  3. Tempat menjemur padi
    Yang ini mungkin benar-benar asli Indonesia. Lahan untuk menjemur padi semakin sempit, maka jalan raya menjadi alternatif. Konon di daerah Indramayu penar terjadi tabrakan antar 2 bus karena bus yang satu melaju dengan kecepatan tinggi, mendadak membanting stir untuk menghindari padi yang diemur di jalan
  4. Garasi
    Bagi yang punya kendaraan tapi tidak punya garasi, jalan raya menjadi salah satu alternatif tempat "mengkandangkan" mobil selain lapangan
Hmmm ada yang mau menyumbang saran fungsi lainnya?


Note: Postingan guru yang sedang stress menjejalkan materi UASBN untuk siswa kelas 6

Wednesday, February 2, 2011

Monday, January 10, 2011

Saturday, January 1, 2011

Perjalanan


Sore itu seluruh penumpang telah duduk dibangku masing-masing
Supir mulai memajukan bis malam memulai prosesi keberangkatan
Para penumpang saling lambai dengan pengantar
Pesan hati-hati disampaikan walau tak terdengar namun dimengerti
Dan aku melambai pada sehelai daun jatuh agar tak menjadi satu-satunya penumpang yang tak melambai.
Bis melaju kian kencang meninggalkan pelataran
Pada arus jalan yang kian tak beraturan
kupandangi satu demi satu barangkali kutemukan sosok berjaket hitam berhelm hitam menyandang ransel berwarna khaki
Sampai diperbatasan
Kulanjutkan sisa perjalanan memandangi layar hape
Barangkali kau kirimkan pesan selamat jalan
Sampai tiba dikota tujuan, tetap tak ada pesan

Sunday, May 2, 2010

Satu Masalah Usai Sudah

Kegembiraan yang saya rasakan saat tahu diterima mengajar di sebuah boarding school di lembang, berubah 180 derajat begitu masuk wawancara akhir. Jam kerja yang bener-bener full, selain mengajar di sekolah masih mendampingi siswa di kegiatan malam dan pagi sebelum berangkat sekolah, ternyata guru juga tidak mendapat libur keluar asrama. Ada satu hari guru diberikan jatah libur, tapi tidak boleh keluar dari asrama, yang artinya tetap berinteraksi dengan siswa selama 7 hari dalam seminggu.

Masalahnya adalah, saya sudah membatalkan semua kesempatan yang lebih dulu datang, dengan asumsi saya akan mengajar di boarding school ini. Akhirnya (salah saya memang) saya tanda tangani juga kontrak kerja itu.

Tapi semakin dipikir, rasanya semakin tidak ingin saya mengajar di boarding school tersebut. Saya tidak akan punya waktu untuk kehidupan personal saya sendiri. Tidak akan bisa mengunjungi mamah dan sanak saudara yang lain. Tidak akan bisa refreshing ke warung baso langganan. Maka sayapun mulai mengirim lamaran lagi. Dan ketika saya dinyatakan diterima di sebuah sekolah alam di pojokkan rancaekek bandung, saya mengajukan pengunduran diri.

Pihak boarding school menelepon saya, meminta saya tidak mengundurkan diri. Ketika saya berkeras untuk mundur, sempat terlontar kata-kata "karena kontrak sudah ditandatangani, maka saya dapat dikenakan pinalti". Saya berjanji untuk datang dan memberikan penjelasan. Tetapi kata-kata yang terlontar tersebut sempat membuat saya sedikit panik. Itu sebabnya saya sempat posting qn tentang butuh nasihat masalah hukum. Alhamdulillah masukan dari mbak intan membuat saya tenang.

Hari Sabtu kemarin, saya ke Lembang untuk bertemu dengan pihak BS tersebut. Alhamdulillah, ternyata responnya baik. Mereka hanya meminta saya untuk membantu mencari pengganti.
So ada yang berminat untuk mengajar English di boarding school?

Terima kasih untuk semua yang telah memberikan support saat saya bilang butuh nasihat hukum.
Special thanks untuk mbak Intan


Wednesday, April 28, 2010

Saturday, April 17, 2010

Terima Kasih Ya

Sungguh menyenangkan berteman di MP. Teman-teman yang saling menyayang dan perhatian. Jadi malu, karena sejak mp upgrade, saya nyaris tidak pernah melihat kotak tempat tercantumnya tanggal ulang tahun teman-teman. Maafkan saya.

Pertama dan teristimewa, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk dia yang menelepon tepat tengah malam, dan menyanyikan lagu happy birthday. So special for me. Thanks.........thanks........thanks....
Lalu terima kasih untuk yang mengirim puisi lewat sms, terima kasih, so sweet
Istimewa juga untuk Marya yang sudah membuat postingan khusus, senangnya membacanya, terima kasih banyak.
Terima kasih untuk teman-teman yang mengucapkan selamat ultah via sms dan gb juga pm
Terima kasih untuk doa-doanya. Semoga Allah mengabulkan
Semoga Allah mengeratkan ukhuwah kita.


Puisi dari seorang teman

ulang tahun perempuan itu tepat jatuh di hari senin
aku merancang sajakku sebelum 7 hari dalam seminggu satu demi satu jatuh dan menguning
awalnya, kutulis penuh coretan sajak ini di buku hutang piutang milik emakku
lantas kusalin tiap barisnya di atas daftar belanja
tapi sampai dini hari aku terus bertanya
apakah sajak koyak ini, jika nanti kukirim, mampu membungkus sepasang matanya yang bercahaya?
dengan sedikit gemetar, kubacakan sajak setengah jadi ini dihadapan ayah, emak, dua adikku dan putih ubin di ruang tamu
Kata mereka sajakku pintu yang terbuka, seperti menunggu sesuatu.
Semalaman, ayah, emak, dua adikku dan putih ubin tak habis berunding
Sampai dini hari berikutnya, kamarku dikagetkan empat ketukan. Ternyata mereka!

Nak, kami menemukan apa yang kurang dalam sajakmu
"Sajakmu ternyata menunggu amin"
mereka lantas bergantian memeluk aku dan sajakku

akhirnya kukirimkan sajak ini padanya
pada perempuan yang berulang tahun jatuh tepat di hari senin
dan sajakku, jatuh satu demi satu seperti air yang menetes hening dari lubang mata
bahagia selalu
bahagia selalu
secemerlang matanya yang dihuni doa



Tuesday, April 13, 2010

Who know the answers

Here are seven joke questions I got from seven secret englishclub.

1. What word begins with "e", ends with "e", and has one
letter?

2. I have 12 legs, 12 arms and 8 heads. What am I?

3. Which month has 28 days?

4. What starts with "P", ends with "E", and has millions of
letters?

5. Why shouldn't you put the letter "M" into the
refrigerator?

6. What animal can jump higher than a house?

7. Why can't a man living in Paris be buried in the South
of France?

Sunday, March 21, 2010

Kopdar Berbuah Black Forest ^___^

Mau kopdar dapet suguhan black forest dan ice cream? Bertandanglah ke rumah mama Shafa di daerah Cimahi.

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mengenal beliau. Sejak MP menyediakan fasilitas chat, beberapa kali kami bertegur sapa via meebo. Sampai suatu ketika beliau menawarkan saya untuk mengajar di lembaga kursus milik adiknya. Maka saya pun membuat surat lamaran.
Saat akan mengikuti test tulis, saya menginap di rumah paman saya di rancaekek. Jam sembilan kurang 10 menit saya sudah berada di kereta. Mama Shafa menelepon saya, mengatakan kalau beliau masih berada di pabrik, tapi akan ke tempat saya tes. Horeee kami akan bertemu.
Beberapa menit sebelum test dimulai, sebuah mobil sedan tiba dikendarai seorang perempuan cantik berkerudung hitam. Saat melihatnya lewat pintu kaca saya langsung menduga beliau adalah Mama Shafa. Segera saja saya keluar menghampiri beliau. Benar saja. Kami mengobrol sebentar, sayang waktu untuk tes tiba. Mama Shafa mengatakan kalau beliau tidak dapat menunggu saya test.

Proses testnya sendiri ampun-ampun buat saya. Bayangkan. 25 soal multiple choice, yang setiap 3-4 nomor berdasarkan sebuah bacaan pendek 1-3 paragraph, total mungkin ada 7 bacaan pendek. Menterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebuah cerita satu halaman folio penuh dengan jarak satu spasi, kebayang kan panjangnya?. 35 soal isian yang satu soalnya kadang memerlukan lebih dari dua jawaban, beberapa berupa sebuah paragrap dengan beberapa jawaban yang harus diisi. 6 soal essay yang masing-masing membutuhkan lima kalimat jawaban. Kesemuanya itu hanya diberi waktu 1 jam!

Selesai test buru-buru saya naik angkot Cimahi-Parongpong untuk pulang. Karena tempat test di cimahi, saya pikir akan lebih cepat bila saya naik bis dari padalarang daripada kembali ke Bandung. Saya bertanya pada penumpang lain, bagaimana caranya ke padalarang. Dan jawabnya?
“Teteh mau ke padalarang? Teteh harus naik angkotnya ke arah Cimahi, ini kita mau ke arah Parongpong...........” Gubrak! Salah arah rupanya. Buru-buru turun (sambil menahan malu dikiiit) naik angkot yang sama dengan arah yang berlawanan. Baru saja saya duduk diangkot, hp berdering. Mama Shafa meminta saya mampir dulu ke rumahnya. Kebetulan, memang itu yang diharapkan, hehehe..........

Sayapun menuju rumah beliau di permata Cimahi. Setelah memencet bel, mama Shafa membukakan pintu untuk saya. Begitu duduk, langsung saya disuguhi minum dan sepotong besar black forest! Kami mengobrol kesana-kemari sambil saya menikmati black forestnya. Banyak hal yang mama Shafa ceritakan, bagaimana perjuangannya membesarkan Shafa. Kemudian mama Shafa berinisiatip menelepon adearin. Yup, kesempatan buat saya pamer kalau saya lagi makan black forest, hehehe........... Mama Shafa juga menelepon shafa yang saat itu berada di sekolah. Saya sempat berbicara dengan Shafa lewat telepon, Shafa mengatakan kalau dia masih belajar menjelang ujian. Shafa bertanya jam berapa saya pulang. saya mengatakan kalau saya akan menanti Shafa pulang. Sepertinya rugi buat saya, jauh-jauh ke Cimahi tapi tidak bertemu dengan Shafa.

Oh ya, mama Shafa bercerita, dia minta beberapa kontaknya di mp yang mau berkunjung untuk memberitahukan dulu beberapa hari sebelumnya, agar dia bisa membuat black forest untuk suguhannya. So jangan lupa ya, kalau mau mampir bilang-bilang dulu sebelumnya.

Kira-kira jam 3 Shafa tiba di rumah. wuuuiiiiiiihhhh, cantik sekali. seharian berada di sekolah tapi tidak nampak keletihan di wajahnya. Senyumnya tetap segar dan ceria. Kami mengobrol beberapa saat, kemudian saya pamit. mama Shafa mengatakan kalau beliau akan mengantar saya. Beliau dan Shafa mengantar saya. ternyata kami mampir dulu di sebuah rumah makan. Ayam goreng plus lalapan menjadi santapan saya sore itu. Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan menuju padalarang. Mama Shafa sempat cerita, kalau beliau biasa membawa mobilnya di jalan Tol sampai kecepatan 170 km/jam. Jadi pengen nyoba.
Akhirnya kami pun tiba di padalarang, saya turun dari mobil, setengah berlari untuk naik ke bus dengan tujuan Jakarta.
Terima kasih Mama Shafa, terima kasih untuk segalanya. Semoga Allah masih mengijinkan kita untuk bertemu lagi

Friday, March 19, 2010

Catatan Singkat Perjalanan

Setelah enam bulan merasakan bagaimana rasanya menjadi tuan atas diri sendiri, akhirnya rindu juga akan suasana rutin. Apalagi beberapa rencana awal tidak berjalan sesuai harapan. Keinginan untuk kembali ke sekolah semakin kuat.
Sebuah kebetulan (Allah telah mengaturnya demikian), seorang wali murid saya menelpon. Memberitahukan ada sebuah boarding school yang baru dibuka di daerah Lembang Bandung. Saya pun membuat surat lamaran. Kemudian mengikuti test tulis, micro teaching dan wawancara. Selesai segala prosedur tersebut, saya diberitahu bahwa hasilnya akan diberitahukan dalam waktu satu sampai 2 minggu. Seminggu lewat, dua, tiga minggu berlalu tanpa ada kabar. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa saya tidak lolos seleksi.
Saat masih bimbang mau mengajukan lamaran ke mana lagi, twuwiiiiiiing. Ada sapa salam dari meebo. Mama Shafa menyapa. Entah saya bercerita apa (lupa hehehe.........) yang jelas mama Shafa menawarkan bagaimana mengajar di sebuah lembaga kursus di daerah Cimahi. Tak lupa beliau menggambarkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki lembaga kursus tersebut. Saya merasa tertarik, dan mengirimkan surat lamaran via alamat mama Shafa.
Saya mendapat telepon dari Lembaga tersebut untuk mengikuti test tertulis tanggal 17 Maret pukul sebelas. Jam setengah sembilan saya berangkat dari rumah paman saya diu Rancaekek, menggunakan KRD menuju stasiun Bandung. Pada saat naik angkot menuju lokasi hp berdering (meskipun bunyinya bukan ringgggggggggggggggg.........).
Oh...oh, ternyata pemberitahuan dari Boarding school di lembang, bahwa saya diterima. Horeeee.............. Sempat ragu juga, apa test di lembaga Kursus akan diteruskan atau tidak. Akhirnya saya memutuskan untuk dicoba dulu. Apa lagi saya sudah janjian sama mama Shafa untuk bertemu di lokasi.
Sebelum test mama Shafa datang. Sempat berbincang sejenak, namun waktu test telah tiba. Mama shafa pamit, tidak dapat menunggu saya test. Selesai test mainlah saya ke rumah mama Shafa. Dapet suguhan black forest, bertemu juga dengan Shafa yang aslinya ternyata jauh lebih cantik dari fotonya.

Tuesday, March 16, 2010

Friday, March 5, 2010

Friday, February 26, 2010

Bukan Tak Mau Patuh Aturan

Konon di Indonesia, aturan itu ada buat dilanggar. Anda tidak setuju? Sebenarnya saya juga tidak. Tapi lucunya (ngga lucu ding) seringkali kita dikondisikan untuk melanggarnya. Berikut pengalaman yang akhirnya memaksa saya untuk "meninjau kembali" kepatuhan terhadap aturan.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih new comer di lalulintas Jakarta (baru punya motor maksudnya), saya pulang dari arah perempatan Pasar Minggu menuju arah Pasar rebo. Tepat saat akan lewat pertigaan condet lampu pengatur lalulintas berubah jadi merah. Saya berhenti di barisan paling depan, dan segera motor-motor lain berhenti pula di samping kiri-kanan saya bahkan banyak pula yang merangsek ke depan melewati garis pembatas. Begitu arus dari arah kiri terhenti, semua motor di kiri kanan depan belakang saya berjalan (motor kok berjalan ya) maju meninggalkan pertigaan. Padahal lampu masih merah dan harusnya giliran dari arah depan untuk berjalan. Tinggallah saya motor sendirian di barisan paling depan.

Tepat di belakang saya sebuah angkot T19 jurusan depok Taman Mini. Melihat semua motor sudah maju tinggal saya sendiri, supir angkot tersebut memukul-mukul pintu angkotnya sendiri sambil membentak-bentak saya "MAJU!!". Saya bingung karena lampu memang masih merah dan arus dari depan sudah mulai maju. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap berdiam dan membiarkan supir angkot tersebut marah-marah. Supir angkot tersebut rupanya tergolong nekat, melihat saya berkeras untuk tetap diam, dia majukan angkotnya pelan-pelan sampai angkotnya nempel belakang motor saya, kemudian dengan angkotnya tersebut dia mendorong motor saya! Saya ketakutan, akhirnya memajukan motor saya melewati pembatas dan mengarahkan motor saya ke kanan, ke tengah-tengah pertigaan sehingga angkot tersebut dapat lewat. Huffff, pengalaman yang menimbulkan efek buruk. Sejak itu, saya selalu ikut arus bila berhenti di lampu merah. Bila arus motor maju, maka saya akan ikut maju walaupun sebetulnya lampu masih merah dan bukan giliran kita untuk maju . Parahnya, pelanggaran seperti itu ternyata bikin ketagihan.

Kejadian kedua terjadi hari senin kemarin. Saya pulang dari Bandung naik Bis P arah Lebak Bulus. Biasanya bis tersebut keluar dulu di Pasar rebo untuk menurunkan penumpang. Tetapi berdasarkan aturan baru (yang aneh menurut saya) bis jurusan Lebak Bulus tidak boleh keluar di Pasar rebo. Sebagai akibatnya, Saya dan banyak penumpang lain diturunkan di jalan Tol sebelum pintu keluar pasar Rebo. Lumayan jauh juga jarak kami harus berjalan kaki untuk sampai di pintu keluar. Bebera bapak-bapak nampaknya tidak telaten untuk berjalan sejauh itu, memutuskan untuk memanjat tembok pembatas tol. Dan akhirnya semua mengikuti. Tinggal saya kebingungan, mau ikut manjat atau terus berjalan kaki. Tidak mau berjalan sendirian, akhirnya saya memutuskan ikut memanjat. Dalam hati ketar-ketir juga jangan-jangan ada murid atau orang tua murid yang lihat bu guru ini sedang memanjat tembok pembatas tol .

Jadi kalau ada yang lewat di Tol Pasar Rebo hari senin tanggal 22 Februari 2010 jam 9.30, dan melihat seseorang yang berbaju dan berkerudung cokelat memanjat tembok pembatas tol, itulah saya

Thursday, February 18, 2010